ARTIKEL

Dua Sisi Digital

20 Jul 2018

Dewasa ini bisnis E-Commerce mulai bersaing dengan bisnis-bisnis konvensional. Perlu kita ketahui bahwa bisnis digital pasti ada sisi positif dan negatifnya. Seperti yang disampaikan oleh Ignatius Untung, Ketua Umum idEA dan Ghani Kunto sebagai host tetap Smart E-commerce dalam diskusinya di Smart Career, Radio Smart FM Jakarta.

Sesuai dengan topik pembicaraan kali ini; Dua Sisi Digital, E-Commerce tidak hanya menawarkan kemudahan dalam menjalankan bisnis, namun banyak hal-hal yang perlu diperhatikan. Untuk langkah awal dalam memulai bisinis digital, kita perlu punya tolak ukur sebagai patokan tepat atau tidaknya target marketing.

Menurut Bapak Ignatius Untung, tolak ukur tiap bisnis berbeda-beda, tergantung dari investor–apakah investor ingin monetize yang cepat atau tidak, kemudian dari segi pertumbuhan user, Cost Acquisition per Customer (CAC), Customer Life Time Value, dan masih banyak yang lainnya.

Berbicara tentang bisnis digital, Unit Kecil dan Menengah atau UKM tentu sangat erat kaitannya dengan dunia E-Commerce ini. Seperti yang dilansir dari Radio Smart FM: Smart Career, Kamis (16/7), “Digital adalah juru selamat UKM, namun disisi lain bisa juga menjadi malaikat pencabut nyawa”. Demikian yang disampaikan oleh Bapak Untung. Menurut beliau, digital adalah pemutus mata rantai bisnis.

Digital bisa mengancam produsen apabila produk yang ia produksi atau pasarkan kalah dalam segi kualitas. Karena dalam bisnis digital, konsumen selalu mencari produk yang paling bagus. Jika dulu, sebelum era digital produsen mampu menjual suatu produk karena pasarnya sempit dan saingannya sedikit, kini di era digital produsen dihadapkan dengan luasnya persaingan pasar.

Untuk menambah nilai dari suatu produk, produsen harus membuat brand. Tentu itu diikuti dengan nilai plus dan minus-nya. “Ketika UKM masuk E-Commerce, yang perlu dipelajari bukan hanya cara bermain E-Commerce dan digital, tapi bagaimana cara membangun brandnya.” Ujar Bapak Untung.