ARTIKEL

FGD Tranformasi Digital Seri 3: Pemberdayaan UMKM di era Covid-19

05 Oct 2021

Sektor usaha informal yang disebut juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia telah sekian lama menjadi bidang yang berkontribusi cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi. Masyarakat sering salah kaprah dalam menginterpretasikan UMKM. Pandangan miring bahwa UMKM tidak akan bertahan lama karena keterbatasan modal cukup sering terdengar.

Pendirian UMKM cukup mudah karena tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Justru kreativitas pemilik merupakan syarat utama keberhasilan. Keterbatasan akses terhadap modal, menjadi motivasi terbesar pelaku UMKM untuk bisa terus berkreasi mempertahankan usahanya tanpa tergerus zaman.

Sebelum tahun 2020, program pengabdian masyarakat dilakukan dengan banyaknya visitasi lapangan. Diharapkan dengan tingginya frekuensi lapangan, dosen akan bisa lebih memahami dan berkomunikasi dengan para pelaku UMKM, sehingga pencapaian program yaitu pemberdayaan UMKM dengan mengatasi kendala-kendala yang terjadi bisa lebih mudah dilakukan.

Namun, pandemi membatasi kondisi tersebut. Pembatasan interaksi orang per orang dan juga kerumunan yang biasa dilakukan saat tahap sosialisasi maupun pelatihan, merupakan hal yang menyulitkan. Para dosen dituntut untuk memutar otaknya memikirkan strategi dan solusi yang bisa diterapkan untuk menyiasati kondisi ini.

Dalam kepengurusan baru 2020-2022, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) akan mengadakan Forum Group Discussion (FGD) bertemakan Pemberdayaan UMKM di era Covid-19, diskusi bersama dengan menghadirkan para pemangku kebijakan, anggota idEA dan akademisi untuk memperoleh informasi kondisi, kesiapan dan mengidentifikasi kebijakan yang dibutuhkan untuk mendukung transformasi digital.

Penggunaan media komunikasi berupa aplikasi pertemuan dan media perpesanan daring dimaksimalkan.
Media komunikasi secara interaktif diharapkan dapat menjadi salah satu contoh yang bisa digunakan sebagai acuan untuk membuat media pemasaran UMKM secara interaktif pula. Penurunan omzet yang terjadi selama masa pandemi akan bisa teratasi dengan hal ini.

Sudah banyak contoh UMKM yang bisa mengembangkan usahanya dari media sosial, website yang cukup informatif dan interaktif, maupun pemasaran melalui media elektronik lainnya. Selain itu, efektivitas biaya karena tidak harus menggaji tenaga pemasaran secara masif bisa dilakukan.

Banyak hal yang memang menjadi kendala selama masa pandemi ini. Namun hal ini sama halnya dengan kemandirian UMKM. Jika kemandirian UMKM yang pada umumnya hanya bergantung pada pemilik dan lingkungan sekitarnya sendiri, maka kemandirian jugalah yang membuat pelaku UMKM bisa resisten terhadap permasalahan global selama krisis moneter.

Jika pandemi ini menyebabkan omzet UMKM menurun karena keterbatasan interaksi antar manusia, maka kretivitas pelaku UMKM harusnya bisa lebih meningkat. Karena pada dasarnya UMKM adalah tentang kreativitas. Hanya UMKM yang berkreasi dan berinovasi mampu untuk mengatasi perubahan jaman. Masa pandemi ini tidak lebih hanya dinamika usaha.

Dengan demikian, tak ada alasan lagi bagi UMKM untuk tidak melakukan transformasi digital. Sebab, transformasi digital adalah keadaan di era sekarang.

Semoga bermanfaat. Jangan lewatkan idEA Forum lainnya.